Kado Terindah Dari-Mu #bagian4
Setelah
enam tahun lamanya dari kejadian lalu. Kini aku sedang menyusun skripsi
kuliahku untuk menyelesaikan program studiku di jurusan Ilmu Gizi. Ya, sedikit
lagi aku akan mewujudkan mimpiku. Ganbatte Kudasai!
Kala
itu, aku sedang melanjutkan tugas skripsiku tiba-tiba bel rumah berdering.
Kamarku terletak paling dekat dengan pintu masuk rumah. Jadi, akulah yang
membukakan pintu tamu tersebut. Aku terkejut ketika melihat dihadapanku berdiri
seorang pemuda yang membelakangi tanpa memutar tubuhnya setelah kubukakan pintu.
Aku
berkata, “Maaf anda siapa dan ingin mencari siapa ya?”.
Lalu
pemuda itu membalikan tubuhnya dihadapanku.
“Assalamualaikum,
ana Andra Nadira”, ungkapnya.
“Waalaikumsalam,
Andra ?”, jawabku.
Kali
ini aku amat sangat terkejut dibandingkan sebelumnya.
“Mari
masuk Ndra”, kataku.
“Tidak
kita lebih baik mengobrol di luar saja Ra”, jawabnya.
“
Apa benar ini kamu Ndra ? Dariman kamu tahu rumah aku ?”, tanyaku.
“Iya
benar ini aku panjang ceritanya untuk menjelaskan mengapa aku bisa seperti sekarang
ini. Aku tahu alamat rumahmu dari sahabatmu, Nisa. Langsung saja Ra tujuan aku
datang kemari adalah untuk menjelaskan sesuatu hal yang selama ini mungkin kamu
herankan Ra”, jelasnya.
“Soal
apa Ndra, silakan kamu jelaskan”, kataku sambil tertunduk.
Ia
pun menceritakan dengan detail kepada Nadira mengenai sepucuk surat dan bunga
mawar putih. Jantungku berdegup kencang tidak seperti biasanya mungkin
getarannya sudah mengalahkan gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia. Lebay
dikit…
“Ra
sekarang aku tersadar seharusnya dulu yang aku tulis dibalik surat bukan
“maukah kamu menjadi pacarku? tetapi yang benar adalah “maukah kamu menjadi
muhrimku?”. Sekarang aku tahu dan paham Dir maksudmu tidak membalas suratku.
Semenjak aku jadi santri aku mengenal banyak sekali pengetahuan tentang agama
Islam. Namun, sekarang aku sudah lulus darisana dan insya Allah aku akan
meneruskan usaha ayahku di Jakarta. Ra bagaimana ajakan niat baikku?”, jelas
Andra.
Ungkapannya
tepat sekali membuat jantung ini rasanya benar-benar mau copot. Jujur aku tidak
pernah merasakan ini sebelumnya. Apa ini pertanda _ _ _ _ _? Aku tidak tahu.
Namun, aku juga tidak pernah merasa sebahagia ini. Istugfhar.
“Astagfirullahaladzim..astagfirullahaladzim”,
gumamku beberapa kali.
“Ndra
sebaiknya kamu datangi abiku dan aku pasti akan menjawab pertanyaan yang telah
kamu lontarkan tadi” , jawabku.
“Karena
lelaki sejati itu datangi ayahnya bukan putrinya”, gumamku dalam hati.
“Baik
dalam waktu dekat ini aku akan datang pada abimu bersama keluargaku untuk mengkhitbahmu.
Terima kasih aku pamit dulu. Salam dengan orang rumahmu. Assalamualaikum”,
jelasnya lagi.
“Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatu”, jawabku.
Khitbah
adalah cara yang dibenarkan oleh islam sebelum proses pernikahan. Adapula
ta’aruf yakni perkenalan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin menuju
pernikahan ini pun dibenarkan dalam Islam. Namun, caranya harus sesuai bukan
berarti berkenalan secara langsung atau begitu saja tetapi, terdiri atas
beberapa tahap.
Aku
menceritakan ini semua kepada keluargaku ketika kami sedang sharing seperti
biasanya. Abi dan yang lainnya mempersilakan niat baik Andra untuk
mengkhitbahku. Abi menyerahkan semuanya kepadaku apakah aku akan menerimanya
atau tidak dan menyarankan aku untuk shalat istikharah terlebih dahulu. Aku
juga bersegera mengabarkan kakakku Kak Zahra yang baru saja melahirkan putri
ketiganya untuk memberikan saran kepada adiknya yang manis ini. Tidak lupa aku
juga mengabarkan dan meminta pendapat kakakku Kak Mira yang sedang umroh
bersama suami tercintanya.
Waktu
yang ku tunggu pun tiba tepat pada tanggal 23 Oktober, di hari ulang tahunku
Andra datang bersama keluarganya. Tidak henti-hentinya aku mengucap syukur
kepada Allah atas nikmatNya hari ini.
“Ini
adalah kado terindah dariMu untukku Ya Rabb, alhamdulillah, ungkapnya.
Setelah
abi bertanya banyak pada Andra mengenai keseriusan niatnya. Andra pun
menanyakan kembali pertanyaan yang pernah ia lpntarkan sebelumnya.
“Nadira,
bagaimana ? bukankah kamu mau menjawab pertanyaannku ?”, katanya.
Ayah
Andra berkata, “Coba kamu katakana satu kali lagi, lagipula kami semua belum
mendengar pertanyaanmu”.
“Baik
yah. Bismillahirrohmanirrohim. Nadira apakah kamu mau menjadi muhrimku?”,
ungkapnya.
“Bismillahirrohmanirrohim, karena niat kamu baik insyaAllah akan ku balas dengan baik juga. Iya Ndra aku mau menjadi muhrimmu. Asalkan..”, jawabku sambil menundukkan kepala.
“Bismillahirrohmanirrohim, karena niat kamu baik insyaAllah akan ku balas dengan baik juga. Iya Ndra aku mau menjadi muhrimmu. Asalkan..”, jawabku sambil menundukkan kepala.
Andra
terkejut dan bertanya, “ Asalkan apa Nadira ? Katakan kepadaku”.
“Asalkan
aku telah menyelesaikan kuliahku”, jawabku.
“Baik,
insyaAllah aku akan menunggumu”, ungkapnya senang.
Kedua
keluarga pun menyetujui dan merestui keduanya hingga akhirnya mereka menuju ke
pelaminan dan hidup sakinah, mawadah, warohmah. Oh bahagianya.
Komentar
Posting Komentar