Kado Terindah Dari-Mu #bagian1
Sebelum
sang fajar terbit dari sebelah timur aku mulai bergegas memulai aktivitas
dengan melaksanakan kewajiban ibadahku terlebih dahulu. Di kala pagi buta, aku
mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut hari pertamaku di bangku SMA.
Banyak orang bilang termasuk kakakku masa-masa SMA adalah masa-masa yang paling
indah. Benar atau tidak, entahlah..
Aku,
aku adalah si gadis manis berkerudung
dengan sebuah pita berwarna coklat yang selalu dikenakan setiap hari. Aku
merasa beruntung bisa merasakan nikmatnya menjadi seorang siswa di sebuah
sekolah favorit di Kota Bandung ini yakni “ SMAN 1 Kota Bandung”. Awalnya aku
merasa canggung masuk di sekolah ini, karena sebelumnya aku tidak pernah
merasakan bersekolah di sekolah negeri.
Ketika
bel masuk berdering kring…kring…”Sebelum pelajaran dimulai marilah kita
berdoa”. Aku pun panik dan segera memasuki ruang kelas X.1. Aku telat masuk ke
dalam kelas alhasil hanya satu bangku kosong yang kutemui. Tidak terbayangkan
olehku bila kini aku duduk berdampingan dengan seorang ikhwan. Hal ini terpaksa
kulakukan untuk sementara saja seterusnya aku akan bertukar tempat duduk dengan
yang lain.
“Mm
ini hanya sementara saja aku duduk dengannya, di hari selanjutnya aku akan
bertukar tempat duduk dengan yang sesame muhrim”, gumamku dalam hati.
Aku
sadar dan paham betul bahwa seseorang baik laki-laki maupun perempuan tidak
diperbolehkan duduk berdampingan dengan orang yang bukan muhrimnya karena
terdapat batasan antara laki-laki dan perempuan yang di dalam agama islam
disebut hijab. Tidak lama seorang
guru pun memasuki ruang kelas dan memperkenalkan diri kepada kami semua.
“Assalamualaikum,
selamat pagi semua. Perkenalkan nama saya Rudi Wijaya di sini saya sebagai guru
Bahasa Indonesia dan juga sebagai wali kelas kalian. Hari ini kalian hanya
perkenalan saja dengan saya karena setelah ini akan dilanjut oleh guru bidang
pelajaran pertama. Sebelum saya tutup apakah ada yang ingin ditanyakan?”
Mungkin
karena raut wajah Pak Rudi yang terlihat sangat tegas sehingga tidak ada satupun
siswa atau siswi yang ingin bertanya. Tanpa banyak membuang waktu Pak Rudi pun
langsung mengabsensi para murid barunya satu per satu. Kemudian setelah selesai
mengabsensi, Pak Rudi segera keluar ruangan kelas untuk memenuhi tugas
mengajarnya di jam mata pelajaran pertama.
Di
sela-sela menunggu guru bidang mata pelajaran pertama masuk teman sebangkuku
mengajak berkenalan denganku.
“Perkenalkan
aku Andra”, sambil mengulurkan tangan.
Aku
menanggapinya dengan salam tanpa mengenai tangannya. “Namaku Nadira”.
“Oh
maaf Nadira aku tidak tahu, senang berkenalan dengan kamu” kata Andra.
“Tidak apa-apa aku
memaklumimu. Ya senang juga berkenalan denganmu” jawabku sambil menundukan
kepala.
Di dalam islam pula kita tidak diajarkan untuk
saling bertatapan dengan seseorang yang bukan muhrim. Hal ini jelas karena ini
termasuk zina dan di dalam Al-Quran juga telah dijelaskan Wala taqrabbu zina, janganlah kamu mendekati zina. Oleh karena
itu, aku selalu berusaha untuk tidak mendekati perbuatan terlarang tersebut
karena tidak ada untungnya apabila yang kudapat hanyalah dosa. Tidak lama
kemudian guru yang kami tunggu masuk ke dalam kelas. Pelajaran pertama adalah
pelajaran yang paling aku senangi yaitu Bahasa Inggris.
Setelah lima mata
pelajaran kulalui hari ini bel jam pulang sekolah berbunyi. Waktu pulang tiba.
Sesampainya dirumah.
“Assalamualaikum. Dira
pulang”, kataku.
“Waalaikumsalam
warrohmatullahi wabarokatu”, umi menjawab.
“Umi sepi sekali rumah
ini. Di mana kakak mi? biasanya jam segini terdengar alunan-alunan lagu nasyid
dari kamarnya”, tanyaku pada umi.
“Kakakmu baru saja
diantar abi kembali ke pondok Ra.”
“Oh pantas. Jadi aku
bisa meminjam novel-novelnya sepuasnya sekarang”, kataku sambil tersenyum
simpul.
“Kamu sudah shalat nak
?”.
“ Sudah dong tadi
sepulang sekolah aku shalat di masjid yang berada dekat di sebelah sekolah mi”.
“Alhamdulillah, kalau
begitu sekarang kamu makan siang saja dulu nak kebetulan umi memasak masakan
kesukaanmu tuh”.
“Asyik. Terima kasih
umiku sayang. Umi tahu saja anaknya yang manis ini sedang lapar. Yaudah mi Dira
ganti baju dulu ya mi”. Aku bergegas masuk kamar dan segera mengganti pakaian
seragamku.
Aku adalah anak dari
tiga bersaudara. Aku ini sebagai anak bungsu dirumah. Tidak ada laki-laki lain
yang mengisi rumah ini selain abiku. Kakakku yang pertama bernama Zahra. Kini
ia sudah bekerja di sebuah perusahaan asuransi swasta di Bandung. Kakakku yang
kedua bernama Amira ia baru saja lulus SMA dari sebuah pesantren yang kebetulan
pemiliknya adalah seorang ustad kondang Aa Gym dan kini melanjutkan studinya
dipesantren kembali. Alhamdulillah aku dilahirkan di keluarga yang sangat
menjunjung nilai-nilai agama sehingga abi sangat sering menyampaikan dan
mengingatkan selalu mengenai agama kepada anak-anaknya agar lebih dalam
ilmu-ilmu yang kami miliki lebih dalam.
Seusai makan siang aku
isi waktu luangku dengan hobiku yakni membaca novel. Novel-novel yang
bertemakan islami tentunya.
“Ka Mira aku pinjam
novelnya ya..”, dengan suara kecil.
Aku memilih salah satu
novel buah karya penulis kesukaanku Habiburrahman El Shirazy dengan buku yang
berjudul “Bumi Cinta”. Bel rumah berbunyi.
“Wah ini pasti abi
sudah pulang”
“ Assalamualaikum”,
salam abi.
“Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatu”, jawab aku dan umi.
Abi baru saja pulang
dari tempat ia mengajar. Abiku ini adalah seorang guru agama tepatnya ia adalah
guru agamaku karena ia mengajar di tempat aku bersekolah. Jadi wajar aku
disekolahkan di sana apalagi kalau bukan karena ayah yang menyuruhku. Padahal
awalnya aku mengira aku akan dimasukkan di pondok pesantren seperti
kakak-kakakku sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar