Kado Terindah Dari-Mu #bagian2


Waktu menunjukkan pukul sepuluh. Ini menandakan bahwa waktu istirahat telah tiba. Aku langsung meluncur ke kantin bersama Nisa. Kami berdua memesan salah satu menu kesukaan kami yakni pempek khas Palembang. Kami sudah saling kenal sejak SMP  kami  berdua pun memang sudah akrab.
Tidak terasa enam bulan sudah aku bersekolah disini lebih tepatnya sudah satu semester aku arungi. Tepat pada tanggal 16 Desember  kami  menerima rapot. Puji syukur tidak lupa aku panjatkan kepada Allah SWT. Aku mendapatkan peringkat ke-2 di kelas. Aku tak menyangka bahwa yang menduduki peringkat pertama adalah seseorang yang pernah duduk denganku di hari pertama masuk sekolah, Andra. Walaupun teman-temanku di kelas memanggilnya dengan sebutan “cukutub”, culun kutu buku tetapi ia mampu membuktikan bahwa ini adalah hasilnya sebagai seorang kutu buku. Teman-teman dikelas banyak sekali yang menjauhinya tapi aku tidak membedakannya dia sama saja seperti yang lainnya yang aku anggap sebagai teman. Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing. Tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Sang Maha Sempurna, Allah SWT.
Ketika aku kembali melanjutkan aktivitas seperti biasanya disekolah selama empat minggu berturut-turut ini aku selalu menemukan sepucuk surat dan setangkai mawar putih nan cantik di meja tempat dudukku. Entah aku tidak tahu apa maksud dan tujuan dari orang yang melakukan semua ini. Aku merasa seperti memiliki pengagum rahasia “secret admirer”.Cie..cie Nadira, eh istigfhar.
“Siapa dia ? apa pula maksudnya ? pengagum rahasia, apa iya ada ? Ah aku ini mengada saja. Sudahlah ini tidak penting Ra lupakan yang jelas tujuan kamu di sini menuntun ilmu tidak ada yang lain sudah itu, titik segede goong”, gumamku dalam hati.

Saat malam tibakami berkumpul di ruang tamu setelah shalat isya. Inilah kegiatan rutin yang kami lakukan setiap malam tiba saling share masalah atau kejadian-kejadian yang dialami hari ini. Tanpa berpikir panjang aku yang memulai bercerita pertama kepada keluargaku mengenai sepucuk surat dan setangkai mawar putih itu.
“ Abi, Umi, Kaka apa benar pengagum rahasia itu ada ?”, polosku.
“ Dira..Dira kamu ini ada-ada aja dek”, ungkap kak Zahra sambil menertawakanku.
Umi berkata, “Pengagum rahasia bagaiman nak ?”.
Aku mulai menceritakan kepada keluarga, “ Jadi begini mi. Setiap hari aku selalu menemukan sepucuk surat dan setangkai bunga mawar putih di atas meja. Ini hanya ada dimejaku mi dan sudah 4 minggu ini aku menerima itu semua. Udah gitu nih mi kata-kata yang dirangkainya puitis sekal. Dira tidak tahu siapa yang melakukannya. Jujur Dira risih mi”
“Masya Allah anak muda jaman sekarang aneh-aneh saja tingkahnya abi sampai bingung. Berbeda sekali dengan anak mudan jaman abi dulu.” Tanggap abi.
Kakak meneruskan, “Iya benar bi. Udah dek gak usah kamu tanggapi orang kaya gitu dan jangan sampai kamu terbawa dengan kebiasaan anak-anak di jaman sekaran. Pacaran, pegangan tangan dengan yang bukan mahrom, dan masih banyak lagi.Kamu paham kan hukumnya? .”
“Iya nak dengar apa yang dikatakan kakakmu. Abaikan saja hal seperti itu diladeni bisa-bisa kamu terperangkap dalam jebakannya”, tambah umi.
“Semua percayakan saja padaku (sambil menepuk dada). InsyaAllah aku tidak akan terjerumus karena aku punya bekal iman dan ilmu yang sudah abi, umi dan kak Zahra ajarkan padaku. Itulah senjataku untuk menyelesaikan semua ini. Dor..dor..dor”, jawabku sambil meramaikan suasana agar tidak terlalu serius menanggapi ceritaku ini.
“Yasudah aku masuk kamar terlebih dahulu semuanya.. aku ingin menyelesaikan tugas juga belajar untuk ulangan harian dari abi besok”, kataku.
Semua menjawab, “Iya”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Adik Laki-Lakiku

Pahlawan Kampus

Sederhana Dan Sarat Makna