Dicintai atau Mencintai ?

Aku adalah seorang gadis dari sebuah desa yang berada di kota, Jawa Barat. Sebut saja namaku Dewi. Setiap harinya tugasku adalah membantu melayani para pembeli yang singgah diwarung umi dan abi.

Sudah bertahun-tahun aku membantu pekerjaan umi dan abi di warung sehingga aku tak sadar umurku semakin beranjak dewasa. Kini usiaku tujuh belas tahun dimana gadis-gadis seusiaku telah dipinang atau bahkan dijodohkan oleh kedua orangtuanya.

Benar saja apa yang sebelumnya aku pikirkan terjadi. Abi diam-diam telah menceritakan tentangku kepada saudara jauh yang belum pernah ia kenalkan padaku. Harun namanya. Aku tidak menolak permintaan abi untuk menjalankan suatu hubungan yang akan menuju  jenjang serius nantinya.

Hari demi hari kami lalui. Namun, aku merasakan suatu perbedaan yang sangat dalam.  Dalam berkomunikasi kami  tidak baik. Dalam arti tak akan ada yang memulai pembicaraan sebelum ada yang memulai berbicara. Hebatnya, hubungan ini berjalan cukup lama yakni satu tahun. Seiring berjalannya waktu aku tidak merasakan hal yang seharusnya aku rasakan. Ini biasa-biasa saja mungkin karena bukan pilihan hati. Keesokan harinya aku mendapat kabar bahwa Harun akan ke Jakarta.

Suatu malam aku dan kedua temanku menghadiri suatu acara yang diselenggarakan oleh kepala desa setempat. Disana kami bersenang-senang dengan alunan musik yang disuguhkan. Ada tatapan mata yang mengarah padaku. Sosok lelaki asing yang baru saja aku lihat. Kemudian pemuda itu mendekat. Oh, betapa gugupnya aku. Dia memperkenalkan diri  dan aku pun sama begitu. Namanya Sandi ia berasal dari desa sebelah. Tanpa sepengetahuanku ternyata Harun mengikuti kami dari belakang. Aku mengabaikannya dengan pura-pura tidak mengetahui keberadaannya. Dia berbohong.

Setelah kejadian malam itu aku dan Sandi semakin akrab. Tidak lama dekat, kami saling mengutarakan perasaan satu sama lain. Ada rasa dimana rasa yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, cinta. Kemudian kami berdua memutuskan untuk menjalani sebuah hubungan bersama tanpa siapapun yang tahu. Walaupun sebenarnya Sandi tahu bahwa aku telah memiliki kekasih. Ia juga mengetahui hubunganku dengan Harun yang ku anggap sebagai keterpaksaan. Setelah kami berbincang panjang lebar di waktu pulang sandi mengatakan bahwa ia malam ini akan ke rumah. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan keinginannya untuk datang malam ini.

Malam tiba, tak lama kemudian terdengar suara percakapan abi dengan seorang pemuda.
“Assalamualaikum anak gadis bapa ada?”, tanya si pemuda.

Karena aku adalah anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara sehingga abi menjawab “Ada, sedang dikamar. Silahkan duduk”.

“Umi tolong panggilkan Dewi ini ada teman yang mencarinya”, kata abi pada umi yang kala itu tidak jauh berada dekat dengan abi.

“Baik bi”, jawab umi.

Umi memanggilku untuk menemui pemuda yang sangat kutunggu kehadirannya, Sandi. Seperti biasa yang dilakukan kebanyakan orang kami berbincang-berbincang. Kali ini dia membahas mengenai niatnya untuk melanjutkan S2 di sebuah universitas yang ada di Kota Cirebon. Ketika kami sedang asyik mengobrol tiba-tiba Harun datang. Aku terkejut terlebih saat ia menggebrak sebuah meja yang ada di hadapanku.

“Jahat kau Wi ternyata kau seperti ini dibelakangku”, ucap Harun.

Entah siapa yang memberitahukan semua ini. Aku tidak menyangka seorang yang sangat pendiam akan benar-benarmengeluarkan amarah ketika emosinya terpancing. Aku terdiam, menunduk, dan tak mengeluarkan kata atau jawaban sepatahpun. Begitupun Sandi ia hanya diam membisu. Mendengar suara keributan yang ada abi, umi, dan kedua adikku menghampiri kami semua. Abi dan umi merasa malu atas apa yang aku perbuat.

“Wi sekarang pilihan ditanganmu. Kamu pilih dia atau aku? Jawab wi!”, tanya Harun dengan nada kerasnya.

Harun kesal karena kami berdua hanya diam tidak menjelaskan maksud dari semua ini. Ia menyuru adikku untuk mengambilkan secarik kertas. Harun menulis dalam kertas itu yang berisi :

Jika “Ya” berarti dengannya
tetapi
Jika “Tidak” berarti kau denganku

Aku tersadar betapa teganya diriku pada Harun. Aku sangat merasa bersalah. Namun, satu yang kupikirkan jika aku memilih Harun tidak terbayang bagaimana nanti jika berlanjut dalam suatu rumah tangga apabila ia saja cuek dan diam. Dan bagaimana jika aku tidak mencintainya. Bagaimana aku bisa bahagia. Sedangkan jika dengan Sandi kami saling memiliki rasa yang sama dan atas dasar cinta bukan terpaksa. Tanganku gemetar air mataku berjatuhan.

Aku hanya memohon dan berdoa “Ya Allah berikanlah jalan bagi kami. Semoga apa yang ku pilih ini adalah keputusan terbaik yang Kau tunjukkan padaku.”
Aku melingkari dua huruf yang ada dikertas. Aku memilih “Ya”. Aku tahu apa yang Harun rasakan. Rasanya pasti lebih sakit dari tertusuk sebuah panah yang meninggalkan sebuah bekas. 

Setelah Harun membaca apa jawabanku ia berbisik pada Sandi “Semoga kalian langgeng”, lantas ia pergi begitu saja. 

Tidak seperti yang kubayangkan aku kira ia akan menampar wajah Sandi. Namun, aku salah. Dengan terjadinya kejadian malam itu hubungan keluargaku kurang membaik dengan keluarga Harun. Abi sangat malu sekali dan marah padaku.

“Dewi! Kamu adalah anak perempuan abi satu-satunya. Kamu sudah membuat malu keluarga. Nanti siapapun yang datang ke abi untuk melamarmu akan abi terima. Ingat itu”, ujar abi.

Tiba saatnya Sandi akan meneruskan kuliahnya di Kota Cirebon. Aku menitipkan sebuah surat lewat seorang adikknya untuk ia bawa. Dari sinilah kami berkomunikasi dengan surat menyurat. Maklum di jaman saat itu komunikasi hanya bisa dilakukan dengan surat menyurat belum ada teknologi canggih seperti sekarang ini.

Satu setengah tahun aku dan Sandi menjalani hubungan ini. Akan tetapi, tidak tampak niatan Sandi untuk melamarku. Hingga ku tahu ternyata jawaban pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati bahwa orangtua Sandi tidak setuju dengan hubungan kami.

Hatiku seperti disayat-sayat mendengar kenyataan pahit itu. Aku sadar aku hanyalah gadis biasa yang tidak berpendidikan tinggi seperti Sandi. Wajar saja orangtuanya tidak menyetujui kami. Aku memutuskan untuk menyudahi daripada hati ini tersakiti lebih dalam lagi. Surat-surat yang pernah Sandi kirimkan aku simpan dengan rapi dalam sebuah kotak hingga menumpuk dikamar. Biar menjadi bukti antara aku dan Sandi. Tidak lama kejadian itu berlalu abi mengajak berbicara serius padaku.

“Wi pernikahanmu tinggal menghitung hari”, ujar abi.

“Siapa yang sudah melamarku? Seperti apa bi orangnya”, kataku.

“Nanti kau akan tahu jika saatnya tiba”, jawab abi.

Aku tidak bisa menolak. Setidaknya ini adalah bukti cinta kasihku kepada kedua orangtua dengan mengikuti kemauan mereka. Aku ingat perkataan abi kala aku berbuat kesalahan yang membuatnya malu. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa aku menerima orang yang belum ku tahu parasnya, sifatnya bahkan jika aku tidak mencintainya. Abi sudah mengenalnya dan yakin tidak salah memilihkan jodoh untuk anak gadisnya.  Pemuda itu adalah orang yang sering aku layani jika membeli sesuatu diwarung umi. Ternyata ia suka padaku dan sering memperhatikanku. Aku tak menyadarinya bahkan yang mana saja aku tak tahu. Aku percaya bahwa orangtua tidak mungkin memilihkan orang yang salah untuk anaknya. Dengan lapang dada aku menerima. Abi mengijinkan aku untuk mengetahui pemuda itu lebih dalam lewat adiknya. Pemuda itu bernama Zein. Ia baik rajin beribadah dan orang yang sangat bertanggung jawab.

Hari besar pun tiba. Calon suamiku memang jauh berbeda dibandingkan dangan Sandi yang dulu ku cinta. Namun, ia sangat sabar juga menerima apa adanya. Dengannya aku merasa selalu dekat denganNya. Aku pun tahu mengapa ia tidak terus terang menyatakan cinta dan niat baiknya untuk meminangku. Alasannya adalah karena di dalam agamaku (Islam) tidak mengenal istilah pacaran dan tidak diperbolehkan segala sesuatu yang mendekati zina. Aku bangga mempunyai suami seperti Zein. Masalah cinta aku juga pernah mendengar lebih baik dicintai dibandingkan mencintai. Apabila kita dicintai perlahan-lahan kita akan bisa membalas mencintai namun apabila mencintai belum tentu orang yang kita cintai akan membalas mencintai pula. Syukur selalu kupanjatkan pada Sang Maha Cinta.

Ini merupakan sebuah cerita pendek dengan tema "Manusia dan Cinta Kasih". Cerpen ini ditujukan sebagai tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar. Cerita yang saya tuangkan adalah sebuah kisah nyata yang diambil dari pengalaman seseorang yang saya kenal.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Adik Laki-Lakiku

Pahlawan Kampus

Sederhana Dan Sarat Makna